Written on September 7, 2009 – 6:30 am | by Adrie | 209 Views

“Lakukan apa yang kalian bisa lakukan untuk hancurkan Malaysia.”Benarkah kita semarah itu?
Alih-alih kian mesra, hubungan dua negeri jiran, Malaysia dan Indonesia justru mengalami kemunduran. Lihat saja sejumlah komentar emosional yang beredar di dunia maya.
Salah satunya, “Lakukan apa yang kalian bisa lakukan untuk hancurkan Malaysia, wahai rakyat Indonesia”, sampai anjuran konfrontasi seperti “Ganyang Malaysia”.
Kombinasi ekspresi kemarahan warga Indonesia dan serangan terhadap situs-situs di dunia maya, seakan menunjukan warga republik siap angkat senjata dan berperang. Yang jadi pertanyaan, apa yang sebenarnya dirasakan masyarakat Indonesia terhadap Malaysia. Benarkah kita semarah itu?
Seperti dimuat laman New Straits Times, Minggu 6 September 2009, mantan President Perhumpunan Mahasiswa Indonesia di Malaysia, Muhamad Iqbal, yang saat ini sedang menempuh doktoral di Universitas Kebangsaan Malaysia, mengatakan kondisi saat ini dipicu kesalahpahaman. Media dan kelompok-kelompok tertentu makin menyulut permasalahan.
Menurut Iqbal, kemarahan masyarakat Indonesia kerap dipicu ‘masalah sepele’ semisal dugaan klaim Tari Pendet dan kontroversi rumah tangga Manohara Odelia Pinot.
Masalah-masalah itu langsung tak langsung mempengaruhi hubungan dua negara. “Kita harus memisahkan masalah yang riil seperti Ambalat dan masalah buruh migran dengan masalah lainnya,” kata Iqbal.
Kata Iqbal, isu Ambalat dan TKI menimbulkan kebencian mendalam bagi masyarakat Indonesia. Sementara, persoalan Manohara, Pendet, ikut memanaskan situasi.
Meski teruk, Iqbal tetap yakin hubungan dua negara akan membaik dan tercipta adanya ikatan kultural dan rasa saling percaya antara Malaysia dan Indonesia.
Salah satunya ditunjukan pasca gempa dasyat Tasikmalaya yang membawa duka bagi Indonesia. “Malaysia telah menunjukan sikap peduli dan membantu tetangganya yang diterpa musibah. Ini akan selalu mengingatkan kita bahwa selalu ada niat baik antar dua negara,” tambah dia.
Sementara, Nasrullah Ali Fauzi, mahasiswa doktoral asal Indonesia yang menulis thesis tentang hubungan Indonesia-Malaysia salah satu penyebab konflik dua bangsa adalah fakta bahwa kesadaran ikatan sejarah dan budaya dua negara tak dimiliki generasi muda.
Baca Selengkapnya »